kumpulan puisi untuk kekasih

Diposkan oleh Deni Dn on Sabtu, 03 November 2012

kumpulan puisi untuk kekasih 

kata kata cinta untuk kekasi

Betapa Ingin
Betapa ingin kubercerita padamu
ketika kita saling berpandangan, saling menembus keheningan
ketika mulut kita terkunci kekaguman
ketika katakata kehilangan kesempatan.
Di bawah bulan separuh lingkaran angin bergelayut di dahan
kamu bergelayut di dada menebus jiwaku

getaran jantungku hanya untukmu. Sunyi mencair
seperti hening menitik dalam butir embun di ceruk matamu.
Betapa ingin kubercerita padamu
tentang perjalanan menciptakan pagi dan sebongkah matahari
untuk menjelaskan makna cahaya dan betapa kehangatan
adalah bahasa pertemuan yang diciptakan cinta.


Ingin Sekali Menulis Puisi
Ingin sekali menulis puisi pada lembaran awan
angin menggiringnya ke pinggir senja
mengubahnya menjadi hujan
kubayangkan engkau di sana, duduk menanti
seikat pelangi yang kuuntai.

Ingin sekali menulis puisi di atas gelombang laut
arus menghanyutkan ke celah teluk
merombaknya jadi ombak bertaut
kubayangkan engkau di sana, duduk menanti
riak rindu yang kurangkai.

Ingin sekali menulis puisi dalam keheningan
malam melarutkan dalam tidurmu
menjadikannya mimpi indah
kubayangkan engkau di sini, rebah dalam dekapan
menyimak kalimat cinta berdebar di dada.

Kuciptakan untukmu Matahari yang Indah
Karena penyair selalu terpukau pada keindahan, dibuatnya puisi
seakan mampu mengabadikan rembang, seakan mampu menjadikannya
tembang. Tetapi senja tak pernah ragu pada malam,
diserahkannya segala jingga. Malam yang lembut datang perlahan,
menyelimuti senja dengan bintangbintang.

Bila gerimis turun menjelang, penyair dan langit berebut menciptakan
bianglala. Penyair mengabadikannya dalam bait, tetapi
langit adalah khazanah. Selalu menjadi guru ketika penyair
kehilangan arah, ia menengadah, berharap langit penuh tanda.
Sebab di setiap keindahan, ada peta menuju kata.

Sebongkah matahari kupahat sebagai prasati, dengan katakata
yang merangkum sejumlah rindu dan hangat dekapan. Aku
bukanlah penyair, apalagi langit senja. Tetapi, dari setiap kata
yang kumiliki, kuciptakan untukmu matahari yang indah.

Melukis Puisi di Matamu
Matamu sepasang coklat tua yang teduh. Memandangmu, seperti
rindang pepohonan di tengah kolam bunga seroja. Aku tercebur.
Jatuh dan mencintaimu. Dan cinta: berpendar dalam sejuta pixel
warna. Memancar dalam cipratan airmatamu.

Dan di sejuk tatapanmu itu, aku ingin melukis puisi. Sebab di
sana ada warna cinta. Membuat rindu seteduh biru lautan yang
tak henti menyusun gemuruh. Membuat kecemasan membias
ungu seperti langit malam menunggu bintangbintang berlabuh.
Membuat harapan secerah kuning mentari di jendela subuh.
Yang membuat merah wajah kita, setiap kali tak dapat menahan
dahsyatnya ledakan jantung. Dan seikat pelangi menyimpulkan
seluruh warna dalam satu goresan senyum.

Bulu matamu yang luruh, biar kujadikan kuas, hanya agar semua
terlukis seperti engkau merindu. Karena kutahu tanganku tak
mampu menorehkan warna selembut tatapanmu, selembut ucapanmu.
Tidak juga mataku dan tidak juga mulutku.

Mencintaimu
Gerimis mencintaimu kekasih. Lembut butirbutir kasih sayang
jatuh di ceruk matamu, mengalir dalam puisiku. Curahan hatiku.
Matahari pagi merajut benangbenang gerimis, dan seikat pelangi
jadi konde indah bagi rambutmu.

Hujan mencintaimu kekasih. Jejakjejak kemarau dihapusnya dari
pelataran. Tak dibiarkannya bungabunga terkulai tanpa kegembiraan.
Disiramkannya airmata langit untuk membasahi lembah
jiwamu.

Angin pun mencintaimu kekasih. Diterbangkannya bungabunga
dalam hembusan lirih di jendela, disematkannya semerbak wangi
di tubuhmu. Menciummu, kurasakan musim bunga yang tak
pernah berakhir.

Senja mencintaimu kekasih. Dilukisnya mayapada dengan jingga
membara. Jiwa bergelora. Mengingatmu penuh gairah. Ke dalam
hatimu bangaubangau mengepakkan sayapsayap jiwaku untuk
pulang.

Malam mencintaimu kekasih. Dinyalakannya lampulampu indah
menghiasi ruang kita bercengkerama. Bulan bulat keperakan.
Bintangbintang berkedip mengintip di kejauhan. Semua menjadi
lukisan kelambu malammalam istimewa kita.

Dan pagi mencintaimu kekasih. Adakah yang lebih membuat
bahagia dari matahari yang memeluk hangat tubuhmu. Matahari
yang terbit dari lembah hatiku, selalu menyapamu dengan
kecupan: aku mencintaimu kekasih.

Sajak Tahun Baru
Subuh terbangun dengan wajah merona merah
dengan tetes embun yang bergulir dari ceruk matanya
menyapa tahun baru, tahun terindah
selamat dan sejahtera.

Telah kita lewati, sepanjang tahun penuh berkah
jejak peristiwa adalah pujian dan ujian
untuk bersyukur dan bersabar
adalah anugerah: untuk bahagia dan tabah.
Fajar di langit timur membawa sebekal cahaya
mengetuk pintu rumah, angin berhembus
mengajak bungabunga berdoa

burungburung prenjak riang sembahyang di pepohonan.
Mentari melangkah di pelataran
senyummu lepas sumringah, cahaya merias wajahmu
wajahmu membekas di wajahku. Ciuman tuntas
sebuah jalan setapak membelah semesta.

Bidadari Pagi
Matahari selalu meyakinkan kita
bahwa untuk setiap malam yang gulita dan panjang
pasti menyimpan sisi terang di ujungnya
Sisi terang yang selalu berbeda dari satu waktu ke waktu.
Tetapi ada kenikmatan yang hampir sama, ialah kehangatan
Seperti genggaman tanganmu
merapatkan jarijemari pada jemariku di dada.
Gerimis kadang datang

tetapi itu akan memperindah padang bunga
saat kugunting pelangi untuk ikat rambutmu
dan bidadari tak dapat turun ke bumi karenanya.
Kamulah pemandangan paling indah
sedang senyumanmu terekam abadi lukisan Davinci.
Di rebak rambutmu, kucium semerbak melati
setiap kali kusibak tiap helainya, aku menemukan wajahmu
manja berbisik pada angin. Akulah bidadari itu.

Mawar yang Bercermin di Kaca
Ia bercermin di kaca itu dan melihat wajahnya
masih cantik seperti
sekuntum mawar yang merekah. Ia yakini,
karena kekasihnya selalu mengatakannya
di pagi hari ketika ia membuka jendela dan matahari menyapa
“kau masih secantik ketika aku meminangmu.”
Di cermin itu ada mawar yang selalu rekah,
wanginya seperti musim bunga

yang tidak ada habisnya, seperti ketulusan mencintai.
Kupukupu kadang masuk lewat jendela mengira
ada sebuah taman sari, lalu hinggap di sana

hanya untuk menarinari di antara jemari lentiknya yang lembut
ketika tangan kekasihnya memagutnya penuh hangat
keningnya disesapnya bak setangkai mawar
lalu matanya terpejam seakan mengabadikan kenangan
“kau masih sewangi ketika di pelaminan.”

Ia bercermin di kaca itu dan melihat wajah kekasih,
tepat di belakangnya
sedang tersenyum memandangnya.

Bahagiakah Kamu
Bahagiakah kamu, ketika musim hujan tiba,
kubukakan payung untukmu
kita saksikan tetestetes air berebut jatuh di ujungujungnya.
Bahagiakah kamu, ketika musim bunga tiba,

kupetikkan setangkai untukmu
kelopakkelopaknya bertaburan di antara jemari kita.
Bahagiakah kamu, ketika malam tiba,

aku nyalakan api menghangatkanmu
dan kubiarkan kamu bersandar di dadaku.
Bahagiakah kamu, ketika pagi tiba, kubukakan jendela
lalu kita rasakan hembusan angin pagi di antara bungabunga.
Bahagiakah kamu, cincin yang melingkar di jari manismu
itulah simbol cinta untukmu, hanya untukmu, selamanya di situ.

Bidadari Senja
Gerimis turun merajut senja. Bias mentari ditenunnya jadi seikat
pelangi. Engkau menuruni lembah hatiku. O, cantik nian
pemandangan ini. Membuatku selalu gandrung hati. Bersama
sejuknya angin senandungkan lagu — cinta yang terakhir, senada
jantungku irama yang mengalir.

Kau suguhkan secangkir teh melati, aroma kenangan, memaknai
setiap derap perjalanan. Halaman rumah adalah ketentraman
tiada tara. Tempat jejakjejak kaki tertanam dan tumbuh
menjelma bunga krisan, menghiasi perjalanan dan kenangan.
Kutatap relung matamu tanpa akhir.

Bidadari senja. Kau selalu membuatku yakin. Cinta adalah bukti,
bukan statistika. Cinta adalah pasti, bukan probabilitas. Dan kau,
kalimat terindah dalam definisi cinta yang dibuat Tuhan
untukku. Kau keindahan tak tergantikan, di antara langit dan
bumi. Aku bersyukur kepadaNya.

Selembar Daun Jatuh
Selembar daun jatuh, seperti bulumata luruh di lembut pipimu
kamu memungut lalu melepasnya menjadi kupukupu.

Berterbangan sayapsayap indah mengisi jiwaku
maka kulihat taman eksotis, setangkai bunga rindu di bibirmu
sedang kukecup tak habishabis.

 penulis

kumpulan puisi untuk kekasih

Huda M. Elmatsani
September 2010
http://www.puisiuntukkekasih.com






{ 0 komentar ... read them below if any or add comment }

Poskan Komentar

Sampaikan kritik dan saran anda dengan bijak, Terima kasih

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
info lengkap - Infi hari ini Kumpulan Terbaru Di Dunia