CONTOH KARYA TULIS ILMIAH: contoh Karya Tulis Ilmiah

Diposkan oleh Deni Dn on Jumat, 01 Maret 2013
Penulisan karya tulis ilmiah Menulis dan menyusun sebuah karangan ilmiah bagi beberapa orang mungkin merupakan pekerjaan yang menyulitkan. Hal itu wajar saja terjadi karena dalam menulis karya ilmiah ada batasan-batasan yang harus diperhatikan. Selain itu, dalam karya ilmiah, ada pula tuntutan atau harapan tertentu yang harus dipenuhi oleh seorang calon penulis. Dalam menulis sebuah karya ilmiah, tidak dapat digunakan pedoman dan aturan yang berlaku pada diri sendiri, tetapi pedoman dan aturan yang berlaku secara konvensional pada kelompok tertentu (Gillett 2003). Gillen (2003) mengungkapkan bahwa tujuan penulisan karya ilmiah adalah untuk menyampaikan gagasan penulis dengan

Karya tulis ilmiah



caranya sendiri. Meskipun karya ilmiah yang dibuat oleh seorang penulis seharusnya disusun dengan memperhatikan pemikiran atau pendapat penulis lain melalui perujukan, itu tidak berarti penulis hanya menulis ulang pendapat penulis lain, tetapi juga harus memperlihatkan pendapat pribadi penulis yang bersangkutan. Sekalipun telah terbit sejumlah panduan menulis karya ilmiah dalam konteks Indonesia (lihat misalnya,

Kerai, 1971; Azahari, 2001; dan Hadi, 2001), buku panduan yang secara khusus ditujukan untuk meningkatkan kemampuan menulis karya ilmiah di bidang ilmu sosial masih kurang memadai Di lain pihak, menuangkan gagasan ilmiah di bidang ilmu sosial secara tertulis bukanlah hal yang mudah. Bertolak dari masalah tersebut, buku ini terbit untuk memperkaya khazanah pustaka tentang panduan dalam mempersiapkan, menulis, dan mencermati karya tulis ilmu sosial.

 Contoh Karya tulis ilmiah sosial

 Tidak berbeda halnya dari karya tulis ilmiah bidang ilmu pasti-alam, karya tulis ilmiah bidang ilmu sosial merupakan sebuah hasil karya seorang ilmuwan sosial dalam rentang perjalanan seseorang melakukan penelitian dan pemikiran tentang fenomena sosial-budaya yang dikajinya, apakah itu diperoleh melalui studi pustaka, atau suatu kegiatan penelitian empiris; apakah itu terjadi di awal, di tengah, atau di akhir perjalanan ilmiahnya. Achmad Fedyani Saifuddin mengulas secara mendalam perkembangan paradigma penulisan karya tulis ilmiah ilmu sosial dalam bagian awal buku ini (lihat Bab 1).

Satu hal yang patut diperhatikan adalah penyajian buah pemikiran penulis dalam sebuah karya tulis ilmiah sebagai hasil dialektika yang terjadi antara pemikiran konseptual-teoretis dan fakta sosial-budaya yang dikajinya. Dengan apa pun juga paradigma yang melandasi suatu karya tuhs ilmiah sosial dan perspektif yang melandasi pemikiran penulisnya, melalui karyanya itulah sang penulis mengungkapkan argumennya tentang isu konseptual-teoretis dan/ atau fenomena sosial-budaya yang dikaji. Argumen itu tentunya merupakan hasil dialektika dan sintesis penulis yang ingin disebarluaskannya agar pembaca, kolega ilmuwan sosial, pemerhati, dan praktisi dapat memetik manfaat dari karya tulisnya. Namun, yang terpenting dari semua itu adalah makna karya tulis ilmiah itu bagi pengembangan ilmu sosial itu

Karya tulis ilmiah sosial

sendiri. Hal inilah yang acapkali terlupakan oleh para penulis muda di bidang ilmu-ilmu sosial di Indonesia. Tidak jarang dijumpai karya-karya tulis ilmiah bidang ilmu sosial yang hanya menyajikan kumpulan data hasil penelitian penulisnya, apakah itu dalam bentuk narasi, tabel, grafik, diagram beserta penjelasannya, diawali dengan uraian tentang masalah yang dikaji, dan diakhiri dengan suatu "kesimpulan". Saat membaca karya tulis ilmiah semacam itu, kerap muncul pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut: • apakah maksud penulis dengan menyajikan kumpulan data tersebut; • apakah argumen yang ingin disampaikannya; • apakah sumbangsih tulisan itu bagi pengembangan isu-isu konseptual, teoretis, metodologis, dan/atau pengayaan pemahaman tentang

Karya tulis ilmiah sosial

fenomena sosial-budaya yang terkait dengan pokok bahasan dalam tulisan itu; dandi manakah posisi karya tulis ilmiah itu dalam konteks pembahasan wacana yang tengah berkembang dalam perjalanan ilmu sosial pada suatu kurun waktu dan isu tertentu?

Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam diri pembaca karena ketidakjelasan argumen yang dikemukakan penulisnya. Tidak hanya itu. Acapkali para penulis muda lupa bahwa suatu karya tulis ilmiah bukanlah "kisah perjalanan" semata, atau "laporan penelitian" yang disiapkan sebagai pertanggungjawaban kegiatan ilmiah saja. Seringkah dilupakan pula tujuan utama menulis suatu tulisan ilmiah sosial, yakni sebagai wahana untuk menjelaskan berbagai situasi, kejadian, dan hasil karya manusia dalam konteks dan arena sosial tertentu.

Alangkah bermanfaatnya apabila tulisan itu pun dapat menyajikan temuan isu-isu teoretis, konseptual, dan metodologis yang baru, atau menemukan suatu domain masalah baru bagi isu-isu teoretis, konseptual, dan metodologis yang lama (Lichbach, 2003). Patut kiranya diingat bahwa sebuah karya tulis ilmiah tidak teriepas dari kegiatan penelitian yang dilakukan penulisnya. Seperti dikemukakan oleh Lichbach (2003:9), semua kegiatan penelitian dilaksanakan dalam suatu kerangka teori, konsep, dan metode; dan karena itulah kritik teoretis itu amat membantu karya empiris yang konkret. Suatu pemahaman yang lebih kritis tentang kerangka-kerangka teori, konsep, dan metode itu merupakan suatu jalan yang penting untuk memperdalam, merumuskan ulang, dan memperluas wawasan-wawasan substansial tentang fenomena empiris yang dikaji.

Namun, hal itu tidaklah merupakan suatu hal yang mudah dilaksanakan. Ketekunan untuk terus belajar dari pengalaman dan praktik membaca kritis dan menulis merupakan suatu syarat utama. Curahan waktu dan perhatian khusus untuk menulis dan membaca di sela-sela berbagai kegiatan ilmiah yang lain, patut diluangkan. Dalam konteks Indonesia dan perkembangan ilmu-ilmu sosial di In¬donesia, mungkinkah hal itu dilaksanakan meskipun kurang memadainya buku-buku dan karya-karya tulis ilmiah mutakhir yang dapat dijangkau oleh para ilmuwan sosial, dan lemahnya kemampuan membaca secara kritis masih

 Karya Tulis Ilmiah

merupakan hambatan utama? Belum pula termasuk faktor buku-buku dan karya-karya tulis ilmiah yang diterbitkan dalam bahasa asing yang tidak mudah untuk dipahami dan dicernakan oleh ilmuwan muda Indonesia. Salah satu hal lain yang dikemukakan oleh Lichbach (2003) yang juga acapkali diabaikan adalah periunya kreativitas.

Penulis. Melalui kreativitas para ilmuwannyalah ilmu sosial
yang baik dapat dikembangkan. Terlepas dari setumpuk kendala itu, buku ini bermaksud untuk memberikan sumbangsih bagi ilmuwan sosial di Indonesia dalam melakukan refleksi atas kemampuan diri Jalam menyiapkan, menulis, dan mencermati karya tulis ilmiah ilmu sosial dalam bahasa Indonesia.

Menyampaikan semua gagasan di atas secara runut, sistematis, logis, dalam rumusan kalimat yang jelas, mudah dibaca dan dipahami, sesuai dengan kaidah bahasa yang berlaku, tetapi juga luwes dan " nikmat" untuk dibaca amatlah penting. Jika hal itu diabaikan, apakah tujuan utama menulis suatu karya tulis ilmiah itu sendiri akan tercapai? Apakah pembaca dapat memetik manfaat secara optimal dari karya tulis yang dihasilkan? Mampukah mereka untuk secara kritis mencermati dan menelaah karya tulis ilmiah yang tidak ditulis secara baik, jelas, runut, logis, dan sesuai dengan kaidah bahasa yang digunakan? Bahasa merupakan sarana utama dalam memperkaya pengetahuan, membentuk pengalaman, serta memberikan makna pada pengalaman itu dan berbagai hal yang terjadi di sekeliling kita atau semua yang kita amati.

Dengan bahasalah kita dapat menjelaskan gagasan dan perasaan kita pada pihak lain, dan juga untuk menjelaskan berbagai hal pada diri sendiri. Apabila seorang penulis menemui kesulitan untuk memahami apa yang ditulisnya sendiri, dapatlah diperkirakan bahwa pembaca pun akan mendapat kesulitan dalam memahami gagasan dan alur pemikiran serta perasaan yang tertuang dalam karya tulis ilmiah itu. Untuk itulah buku ini disiapkan oleh para penulisnya dengan harapan agar para pembaca dapat memetik manfaat dari sisi substansi tulisan dan dari sisi bahasa. Kali ini, pembaca kami ajak untuk mencermati ulang kemahiran menulis dalam bahasa Indonesia.

Organisasi naskah

Semua tulisan dalam buku ini disusun sedemikian rupa dalam kerangka proses menulis yang berawal dari mencari wawasan, menemukan ide atau gagasan, menuangkannya dalam bentuk tulisan, hingga mengoreksi tulisan itu kembali. Oleh karena itu, dalam kerangka berpikir demikian, buku ini dibagi menjadi empat bagian yang pada dasarnya tidak terpisah, tetapi merupakan sebuah kesatuan proses yang saling menjalin yang mencerminkan tahapan dari suatu rangkaian kegiatan menulis. Bagian pertama: "Menggali Wawasan dalam Penulisan Ilmiah" mengawali seluruh untaian bab dalam buku ini. Bagian kedua menyajikan tema tentang "Mempersiapkan tulisan,
inilah contoh karya tulis ilmia

{ 0 komentar ... read them below if any or add comment }

Poskan Komentar

Sampaikan kritik dan saran anda dengan bijak, Terima kasih

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

 
info lengkap - Infi hari ini Kumpulan Terbaru Di Dunia